Pembawa acara "Mad Money" CNBC, Jim Cramer, menilai kenaikan biaya pinjaman (borrowing costs) tengah memecah pasar saham Amerika Serikat menjadi dua kubu: perusahaan yang terhambat pasar obligasi dan bisnis kecerdasan buatan (AI) yang tampak kebal terhadap suku bunga tinggi.
Pernyataan itu disampaikan Cramer pada Rabu setelah lelang surat utang (Treasury) 10 tahun senilai US$39 miliar menarik permintaan kuat, sehingga imbal hasil (yield) obligasi turun dari level tertinggi dalam beberapa dekade pada hari yang sama. Meski demikian, saham berakhir lebih rendah setelah yield benchmark 10 tahun sempat menyentuh 5,365%, level tertinggi sejak April 2002.
Cramer menyebut fokus pasar yang kembali pada lelang Treasury menunjukkan betapa pentingnya biaya pinjaman bagi saham. "Setiap pasar di mana Anda harus menunggu hasil lelang Treasury tidak sebaik pasar di mana Anda tidak peduli," ujarnya. Ia menilai setiap variabel baru membuat kepemilikan saham menjadi lebih sulit.
Menurut Cramer, sektor keuangan, properti, utilitas, hiburan, ritel, otomotif, dan industri merupakan sektor yang perusahaannya atau pelanggannya sangat bergantung pada kredit. Sebaliknya, perusahaan terkait AI, seperti pembangun pusat data, perusahaan semikonduktor, penyedia listrik, dan perusahaan keamanan siber, jauh lebih longgar karena pemberi pinjaman tetap antusias membiayai pertumbuhan mereka. Hal ini, kata dia, menjelaskan mengapa pasar saham belakangan sempit, dengan saham AI memimpin S&P 500 kembali ke rekor tertinggi pekan ini.
Sebagai contoh, menurut laporan Financial Times, SpaceX milik Elon Musk berupaya meminjam US$40 miliar untuk membeli chip Nvidia bagi pusat data dan menjual daya komputasi yang dihasilkan, seperti yang telah dilakukannya dengan Google milik Alphabet dan Anthropic. Meski memiliki peringkat kredit BBB dan nilai pinjaman besar, Cramer memperkirakan SpaceX bisa mendapat syarat pinjaman yang relatif menarik karena antusiasme terhadap AI. "Jika itu perusahaan non-pusat data, tingkat pinjamannya akan melonjak," katanya. "Bukan pusat data."
Ia membandingkannya dengan Skydance yang baru saja menerbitkan utang dalam jumlah serupa sebagai bagian dari akuisisi Warner Bros. Discovery. Obligasi tersebut cepat jatuh karena investor mempertimbangkan tantangan yang dihadapi bisnis film dan televisi yang sensitif terhadap ekonomi, termasuk cord cutting dan tekanan iklan.
Kontras itu menegaskan poin Cramer: perusahaan tradisional tetap rentan terhadap biaya pinjaman tinggi, sementara bisnis AI sebagian besar lolos dari kekhawatiran kredit tersebut. Cramer menyebut saham AI sebagai nama yang "disucikan", yang menurutnya hanya terkait dengan masa depan yang dianggap begitu cerah hingga menutupi berbagai masalah.
Sumber: https://www.cnbc.com/2026/10/07/jim-cramer-spacex-wall-street-bull-case.html